API ITU PADAM

Kedewasaan perlahan merubah cita dan cinta

Entah itu karna logika ataupun peradaban

Namun kadang melintas di benak, bahwa yang aku jalani bukanlah aku

Dimana anak dengan impian-impian jenaka yang berlari ditengah hujan

Berteriak lantang “Aku mau jadi astronots!” sampai suaranya habis diurai udara

Tanpa malu akan ditertawakan, tak bergeming sedikitpun

Saat itu apiku masih binar

Terlindung apik tanpa pelindung

 

Sekarang semuanya tersususun, rapi

Seperti jajaran minuman kaleng di rak mini market

Aku dibentuk sempurna, persis, tanpa cacat

Tak ingin tau apa yang ada di jajaran lain

“Ya memang sudah begini seharusnya” bisik seorang kaleng

Sebuah frasa pemadam api yang tak jarang dijumpai

Membuat api meredup dalam kenyamanan

 

Ingin rasanya SEDIH

Bukan karna olokan ataupun drama adu peran

Karna kandasnya sebuah impian yang sampai akhir diperjuangkan

Ingin rasanya meledakan tawa karna puasnya hasrat yang mengalir

Bukan sebuah kesenangan palsu atas pencapaian tak bernilai

Kebahagian fana membalut api jingga hingga meredup

Memadam

Menjadi asap abu-abu yang tak tercium bau hangusnya

 

Kedewasaan memang perlahan merubah cita dan cinta

Entah itu karna logika ataupun peradaban

Namun aku tak kenal aku lagi

Yang kulihat dicermin hanyalah seorang kaleng indah tanpa cacat

Dengan tatapan nanar membias dari sorot matanya

Api itu sudah padam

Advertisements

A Little Pray

Tuhan. Di malam yang hening ini, sebelum mata ini terpejam, sebelum semua realitas meredup dan mimpi-mimpi terlihat sangat nyata. Aku ingin mengucap harapan dan keinginan yang terangkai menjadi doa sederhana tanda ketidak berdayaanku

Tuhan. Aku mengucap doa. Sebutir doa dari ratusan harapan yang aku ajukan kepada-Mu. Harapan yang sama, harapan untuk dia, sebuah harapan sederhana penuh makna yang selalu aku panjatkan setiap malamnya.

Tuhan. Biarkanlah dia tersenyum dalam mimpinya. Aku tidak meminta kau memberikan mimpi terbaik untuknya. I just hope a dream that can make she shining his smile in her sleep. Just a little shining smile. Dan saat dia terbangun, buatlah senyum indah itu abadi diwajah cantiknya. Because i  love that smile

Ameen

Suasana Malam

Masih terjaga. Gerakan beberapa orang dari layar kaca menjadi satu-satunya sumber cahaya mencolok malam itu. Ditemani oleh para jangkrik liar belakang rumah yang aktif untuk bersenandung meramaikan malam yang hening. Beberapa ikan peliharaan pun masih sibuk menari menghibur tuannya disinari biru redupnya lampu akuarium. Segelas minuman penuh cafein dan beberapa kawan hidangan pengisi waktu luang terhampar rapih diatas karpet. Sesekali terdengar sang handphone mengalunkan nada-nada familiar mengisyaratkan orang tersayang masih dalam keadaan yang tidak jauh berbeda.

Seakan lupa akan rutinitas esok pagi, si mata melirik jam dinding dan mengacuhkannya tak peduli. Leher masih berupaya menopang sang kepala. Para jari berlarian mencari huruf diatas handphone. Mulut tak hentinya melumatkan kudapan malam. Bagaikan bos besar, otak memaksa mereka terus bekerja. Sampai pada satu titik kemuakan saat semua perlahan memudarkan kinerjanya sedikit demi sedikit. Meredup. Menghilang. Dan akhirnya, berhenti terjaga.